Showing posts with label Dormistory. Show all posts
Showing posts with label Dormistory. Show all posts

In Dormistory

Kok Bisa Jadi Culture!?


Assalamu’alaikum Warrahmatullah Wabarokatuh?
Allo?

            Mmm... Yay, UNBK baru aja selesai nih, which is litteraly buat anak SMK/MAK. Nah ngomongin tentang UNBK sebenernya itu agak gimana gitu ye. Emang kaya udah gak heran kalau inside-out ada banyak kecurangan. Ingat, BANYAK! Sampe ada yang bangga nyebut “culture”!

            Dari tahun ke tahun, generasi ke generasi sepertinya emang gak pernah ada yang one hundreads percent ujian nasional itu murni. *Maaf yah, suudzon. Dan parahnya memang seakan siswa-siswi di zaman now menganggap itu normal! WHAT!? “Yaelah, nyontek satu aja masalah”. Malah udah jadi kaya culture gitu, mulai dari bocoran soal, kunci jawaban, upaya menyontek, kerjasama dan berbagai bentuk kecurangan lainnya. Terus gak perlu jauh hari sampai dengan ujian yang taraf nasional, mulai dari pekerjaan rumah aja tetep ada kecurangan.

            Nah Alhamdulillah gue ini udah lulus UNBK tahun lalu, tapi beberapa hari seusai ujian gue lihat sebuah tweet yang emang harusnya gak kaget, tapi yaa “Nah LOH!” segitunya ya Indonesia-kuh. Emang maksud dari akun ini cuma iseng-iseng aja, tapi gue yakin voters-nya itu pure dari mereka yang sudah jujur (in this case jujur ngisi vote itu).





            Jumlah voters pun juga gak sedikit, sampai dengan final result ada 572 akun yang ikut. Dan hasilnya bisa dihitung kalau 366 akun bilang kalau “Masih ada kecurangan di sekolahnya”. Inget lagi, akun edukasi ini CUMA iseng-iseng aja loh ya, gimana kalau sekalanya diperbesar? Gimana kalau @Kemendikbud_RI yang buat?

            Astagfirullah hal adzim. Kenapa ini bisa terjadi? Apakah penyebabnya? Apa konsekuensi jangka panjangnya? Jawabannya sudah pernah diungkapkan oleh kak Glenn Ardi  dari VP of Marketing Zenius Education dan Editor Zenius Blog, beliau berpendapat :

“Kecurangan dalam dunia pendidikan akan terus mengakar selama masyarakat (siswa/guru/orangtua) memiliki persepsi bahwa nilai akademis adalah tolak ukur prestasi, kebanggaan, serta SATU-SATUNYA indikator dan ‘jembatan’ dalam meraih jenjang karir, prospek kerja dan kesuksesan finansial di masa mendatang.” (Itu singkatnya, untuk lengkapnya silahkan click disini).

            “Salah satu konsekuensi jangka pendek adalah dalam hal akademis dimana pelaku akan mengalami kesulian disaat dia benar-benar mengikuti sebuah ujian mandiri, kita bisa sebut SBMPTN atau ujian mandiri lainnya. Hal yang lebih ngeri lagi adalah konsekuensi dalam kapasitas mental. Seseorang yang terbiasa mensiasati sistem, mencari jalan pintas, menyogok, berkolusi... pada akhirnya membentuk pribadi yang serba instan. Bagi mereka yang terbiasa curang sejak menjadi pelajar, akan tetap terus berada dalam pola pikir untuk bisa “lolos” dari masalah dengan cara yang tidak fair. Sampai pada akhirnya akan tiba masanya mau gak mau pelaku harus membuktikan kemampuan yang “sejujurnya” ada dalam dirinya.”

            “Jadi menurut gua pribadi, budaya curang dalam dunia penididikan bukan soal gak jujur pada nilai akademis saja, tapi soal kebiasaan menumpuk masalah yang jauh lebih besar lagi di kemudian hari. Ujung-ujungnya, keputusan untuk jujur atau curang dalam jenjang akademis, pada akhirnya bukan demi siapa-siapa tapi untuk mengasah prinsip dan ketahanan mental lo untuk menghadapi masalah (baca: ujian yang jauh lebih besar) di masa depan.”

            So.... let see.... hal yang disebut “culture” ini positif banget (JELAS BANGET) = NEGATIF. Pengaruhnya buat pelaku gak cuma saat melakukan kecurangan mendapat dosa, tapi juga akan berkelanjutan sampai dengan nanti dia tua (dimasa depan). Jangan salahin Indonesia kalau negaranya gak maju-maju, negara ini, kini sedang berkembang, jangan dihambat dengan culture yang negatif, please. Integritas, integritas. Hiks, yang gini kok bisa jadi Culture!?

            Sudah tahu dusta itu berdosa kok masih dilaksanakan. Sudah tahu tempatnya orang berdusta di neraka kok masih mau coba-coba. “Yaudah. Nanti usai ujian gue tobat! Gampang kan?” Syukur kalau masih punya waktu. Kalau lagi nyontek tiba-tiba nyawa dicabut gimana? Bisa kasih jaminan kalau hari ini bukan hari terakhir hidup? Lagian, mau buat dosa kok direncanakan.

Astagfirullah hal adzim.

Astagfirullah hal adzim.

Astagfirullah hal adzim.

Sudah, yah. Jangan deh, jangan dusta. Berat dosanya. Percaya deh sama Allah SWT. Yuk Jujur aja.

Dalam hadist dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta. Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim).

Semoga hadits tersebut dapat menguatkan iman kita untuk senantiasa jujur dalam hal kebaikan. Semoga apa yang kita perjuangkan mendapatkan hasil yang terbaik sesuai dengan usaha dan doa kita. Aamiin Allahuma Aamiin.

Dengan Senang Hati Kembali Kasih,
Always be #positive and Salute!
Wassalamu’alaikum Warrahmatullah Wabarokatuh.



***

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Dormistory

Better


Assalamu’alaikum Warrahmatullah Wabarokatuh
Allo?

Better! Better! Better! Lu kalau denger kata itu inget apa? Makanan ya!? Jajanan? (Mungkin anak jaman now gak tau kalau dulu harganya lebih murah tapi size-nya lebih gede. Hehe) Eits. Bukan, bukan mau nostalgia jajanan masa lalu. Kali ini gue mau bahas lebih tentang makna dari kata yang artinya Lebih Baik. So #herewidgo and this is #dormistory!

            Jadi tau kan Allah SWT punya 3 jawaban untuk permintaan atau doa yang kita panjatkan? Pertama, YA (Langsung dikabulkan), kedua YA (namun tunggu waktu yang tepat) dan TIDAK (Diganti dengan yang “Better”).  Beberapa hari yang lalu nih waktu gue doing something di kampus, gue ketemu nih sama salah satu adek kelas, disaat yang lain UKK (Uji Kompetensi Keahlian) dia dah bebas tugas karena sehari sebelum gue dateng dia dah beres. Jadi waktu gue nunggu guru gue selesai ngawas yang UKK gue ngobrol banyak sama ni anak, then dia cerita gitu tentang kegiatannya bulan lalu.

            Ceritanya ya hampir sama gitu karena gue juga pernah ikut almost similar event. Miripnya itu lanjutan event ini juga bakal go international gitu, tapi yang namanya juga event kaya gini kan gak semua peserta bisa ikut berangkat toh, akan ada seleksi dan ditentukanlah delegasi untuk kelanjutan event tersebut. Alhamdulillah yang cerita ke gue ini dia anak yang bakal berangkat itu. Tapi, dia sendiri juga bingung nih mau bilang ke peserta lain yang juga temen dia sendiri. Takutnya salah ngomong, nanti malah jadi masalah. Sebabnya sama sih kaya waktu gue dulu, pengumuman ini tuh cuma diberitahukan ke orang yang lolos doang, jadi peserta yang lainnya gak tau. Dan malah waktu itu terjadi ke gue, temen gue (mana waktu itu sekelas) nih tau pengumuman tuh dari guru yang tiba-tiba nyeplos di kelas waktu pelajaran. Niat gue mau ngasih tau baik-baik jadi gagal. Didiemin dah gue. Hiks. Serba salah.

            Nah bisa jadi kisah nyata diatas itu adalah jawaban Allah SWT yang pertama. YA! Langsung dikabulkan, namun bisa jadi dengan dikabulkannya apa yang lu minta itu juga bisa menjadi ujian bagi lu sendiri. Selain itu dengan dikabulkannya apa yang kamu minta, kan juga menambah tanggung jawab ngasih efek yang positif untuk pribadi dan orang lain.

Sakit emang kalau apa yang kita harapkan, sebut-sebut dalam doa dan setelah beberapa waktu kita spend more untuk hal itu tapi hasilnya is not satisfied. Huuuuh (menghela nafas). Kecewa itu pasti ya, kendati orang lain udah coba menghibur, sampai kita sendiri dah bilang ikhlas dan sabar BUT THE FEELS LIKE UMMM!!! UNDESCRIBED! Tapi ini bisa jadi contoh jawaban Allah SWT yang kedua. YA! Tapi tunggu waktu yang tepat.

Lanjut cerita nih, dulu setelah event gue selesai, bulan berikutnya kan ada tuh kegiatan yang mirip gitu. Karena gue dah ikut program sebelumnya jadi gue gak boleh ikut lagi program ini, jadilah gue buat bantu guru untuk kegiatan seleksinya. Kebetulan temen yang sekelas gue itu ikut nih, dan Alhamdulillah dengan ikhtiar dan tawakal ikut serangkaian kegiatannya. Dia juga yang finaly jadi delegasi untuk program tersebut. Kalau ditanya gue seneng atau nggak? Yang baca harusnya tau gimana. Mm, dari sini gue sadar betul akan jawaban Allah yang kedua ini, Allah mungkin tidak mengabulkan apa yang kita minta saat ini juga sebab dia yang lebih tau kapan waktu terbaik kita untuk menerima apa yang kita harapkan.

            Siang harinya, after yang gue tunggu selesai ngawasnya gue langsung ambil noh, sekalian cap 3 jari tangan (yaelah? Masa kaki! Hehe). Daripada nantinya kalau gue butuh legalisir gue bolak-balik nyebrang provinsi, langsung dah gue fotocopy terus dilegalisir. Sembari nunggu nih, setelah tadi paginya anak yang bakal berangkat nih cerita, sekarang ganti sama anak yang belum rezekinya berangkat. Ya cerita gitu sih, kecewa mah ya iya, jelas, malah kalau semakin dibahas katanya makin sakit hatee. Then i tell the jawaban Allah SWT yang ketiga itu. Saat ini mungkin tidak, tapi Allah pasti bakal ganti dengan yang “Better!”.

Again, gue bilanginnya sambil dongeng yang kalau bahasa novelnya based on true story/event. Dulu waktu gue seleksi untuk ikut Sakura Science Program, Alhamdulillah gue yang jadi delegasi untuk sekolah gue, waktu itu cuma gue seorang. Temen gue yang gak lolos pasti kecewa kan? tapi nih gue bantu doa dan dia juga terus berusaha, di next event dia juga malah kepilih gitu untuk jadi delegasi selanjutnya. Dan Alhamdulillah lagi, Malahan kemarin nih kita juga sama-sama ikut seleksi untuk S1 International Schoolarship Program gitu dan hasilnya juga Alhamdulillah dia yang dapat kesempatan untuk itu. Bukti kan? Allah SWT PASTI ganti dengan yang lebih baik.

Adek kelas tanya gue kecewa gak? Jujur ya ada aja, tapi kalau diresapi lagi ya enggak lah, seneng malah! Sebab apa? Seenggaknya walaupun bukan gue yang berangkat, tapi yang berangkat itu kan temen gue sendiri. Alhamdulillah ya gue punya temen yang dapet beasiswa sampe ke negeri orang gitu, gue bersyukur. Siapa tau nantinya dia juga bisa memberikan manfaat yang juga berdampak baik pada orang lain kan Alhamdulillah. Semoga ya! Aamiin ya Rabb. Alasan lain gue bersyukur, berarti dengan ini gue masih diberi waktu lebih lama sama keluarga gue, bakal banyak family & quality time (semoga), juga bahasa inggris gue ini kan masih ngalor-ngidul gitu. Hehe.

Lantas gue share juga gimana cara gue uktuk lebih ikhlas, sabar atau seenggaknya mengurangi rasa kecewa. Dengan apa? Ya dengan BERSYUKUR! Yap! Be Grateful GUYS-GIRLS. Gue sendiri juga sering kok mendapati kekecewaan, tapi ya lantas gue bersyukur. Biasanya gue sendiri bakal diem sendiri, spend time for my self terus gue sendiri mikir, apa yang gue punya, apa yang gue pernah rasakan itu orang lain ada yang tidak! Bahkan bukan cuma ada mahalah BANYAK yang tidak punya/rasakan. Dari sono noh biasanya yang buat gue sendiri jadi lebih ikhlas dan sabar. Bersyukurlah kamu yang pernah ikut seleksi/kegiatan apa pun, sebab dengan kamu ikut seleksi/kegiatan itu kan sudah menambah pengalaman tersendiri. Lah terus yang kalau gak pernah ikut seleksi/kegiatan gimana!? Ya bersyukur juga, kan itu dijauhkan dari rasa kecewa kalo gak lolos dan rasa ujub karena terlalu bangga dengan pencapaian. Bener nih ya! Menurut gue lebih banyak bersyukur itu lebih baik daripada berbangga. Percaya deh. Kenapa? Coba dalami makna dari ujub tadi (sesekali gue juga pengin cyberreaders nih cari sendiri makna lain dari tulisan gue ini, Ya! Peace!)

Ada yang lain nih pemikiran gue tentang jawaban Allah yang ketiga. Pasti diganti dengan yang “Better!” and unpredictable! Misal nih, ketika lu gagal untuk ikut lomba makan di Singapura. Tapi lu senantiasa sabar dan ikhlas, Insyaa Allah akan diganti dengan lu malah ikut lomba makan di Jerman, Perancis, Inggris, Dubai dan luar negeri lainnya. Atau malah lu jadinya ikut lomba minum di Luar Angkasa! Mm! Kan harus lebih bersyukur! Karena makan tanpa minum itu bagai taman tak berbunga! (lama-lama nih gaje! Hehe). Ya intinya gitu sih! Senantiasa sabar, ikhlas dan bersyukur.

At last but not last. Janji Allah SWT adalah benar dan keputusan-Nya adalah pasti. Ia akan selalu memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Kalau ditanya kapan? Gue cuma bisa jawab Someday! Ya, Entah Kapan Suatu Hari Nanti, Pasti. *ting

Always be #positive and Salute!
Dengan Senang Hati Kembali Kasih
Wassalamu’alaikum Warrahmatullah Wabarokatuh



***

                                                                                                                       


            

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Dormistory Herewidgo Japan Japan Asia Youth Exchange Program In Science Sakura Sakura Science Someday Widgostory

Sakura Science Program


Assalamu’alaikum Warrahmatullah Wabarokatuh
Allo? 
Dan again gue jadi pengin flashback ke salah satu masa yang tak terlupakan, sorry kalau tulisannya agak formal karena emang ini diambil dari laporan yang pernah dibuat sebelumnya. Ok #herewidgo and this is #dormistory!

Saya berkesempatan mengenal lebih dekat Jepang melalui Sakura Exchange Program in Science, sebuah program Pemerintah Jepang (Japan Science and Technology Agency). Program ini bertujuan memberikan bekal kepada calon pemimpin-pemimpin di Asia dalam bidang sains dan teknologi melalui fasilitas kunjungan ke Jepang secara langsung.

Saya bersekolah di SMK Kehutanan Negeri Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat. Sekolahku menjadi tempat penyelenggara bersama empat Sekolah Kehutanan Negeri lainnya di Indonesia. Seleksi di sekolahku dilaksanakan pada hari pertama masuk sekolah semester II, tepatnya 4 Januari 2016.   
      
Setiap peserta diminta menulis makalah dengan tema “Peran dan Harapan Siswa dan Guru jika Mengikuti Sakura Exchange Program In Science”. Setiap SMK Kehutanan Negeri penyelenggara seleksi diberi kuota 3 siswa dan satu guru. Makalah dikirim ke Pusdiklat Bogor dan Japan Science and Technology (JST) Agency di Jepang.

Satu minggu dari seleksi, kami mendapat hasil pengumuman. Ada delapan siswa yang terpilih. Pertama, Kevin Widiar Golpantara (SMK Kehutanan Negeri Kadipaten). Kedua, Elisabeth Sianturi (SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru). Ketiga, Muhammad Alkhilal Ramadhoni (SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru). Keempat, Mahyu Rifdatul Jannah (SMK Kehutanan Negeri Samarinda). Kelima, Noga Gabriella (SMK Kehutanan Negeri Samarinda). Keenam, Adit Rinaldi Mponoi (SMK Kehutanan Negeri Makasar). Ketujuh, Agung Zulhaq Putra (SMK Kehutanan Negeri Makasar). Kedelapan, Arinsty Vidiastica Nurfadila (SMK Kehutanan Negeri Manokwari). Dua guru terpilih menjadi pendamping siswa dalam Sakura Exchange Program in Science ini, mereka adalah Tri Mayasari (SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru) dan Ramlan (SMK Kehutanan Negeri Samarinda).

Begitu pengumuman disampaikan melalui e-mail, saya segera mengurus paspor dan visa. Titik jumpa pertama kami berlangsung di Pusdiklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bogor, Jawa Barat pada 11 Februari 2016. Kami berkumpul untuk membahas presentasi dan poster yang akan dipersembahkan dalam Symposium SGH (Super Global High School) di University Tsukuba Sakado Senior High School, Sakado, Saitama.

Ada tiga (3) presentasi yang dirancang, yaitu Forestry Vocational School Of Indonesia, Sakura Science 2016 dan Kegiatan SGH Symposium tahun lalu. Kami mempersiapkan sebuah poster jumbo dan keperluan lain. Singkatnya, selama tiga hari singgah di Pusdiklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kami berhasil menyelesaikan dua (2) presentasi dan poster. Yang belum terselesaikan adalah presentasi Sakura Science 2016 karena kegiatannya memang belum dilaksanakan

Hari keberangkatan tiba. Kami menuju Bandara Soekarno-Hatta pada 13 Februari 2016 pukul 16.00 WIB. Pesawat JAL 726 akan take off pukul 21.25 WIB. Doa yang kupanjatkan pada saat itu adalah semoga perjalanan ke Jepang selamat dan kami mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Amiin. Perjalanan malam kami nikmati dengan beristirahat agar setibanya di Jepang badan lebih fit. Alhamdulilah, sebelum kami landing di Narita Airport, mentari lebih bersinar dari ufuk timur. Kami menikmati pemandangan indah itu dari jendela pesawat sembari makan pagi.

Burung besi raksasa JAL 726 sukses mendarat dengan selamat di Narita Airport pada pukul 06.35 Waktu Jepang atau pukul 04.35 WIB. Di Bandara itu, kami disambut hangat oleh Mr. Yoshikazu Tatemoto, salah satu guru SMA Sakado (University Tsukuba Sakado Senior High School). Tak lama setelah itu, kami mulai keluar menghirup udara Jepang. Langit Jepang saat itu terharu. Rintikan air gerimis dan hembusan angin dingin menyambut kami.Hujan tidak membuat api semangat kami berhenti berkobar. Inilah Jepang, negara maju kedua setelah US. Jepang bersih tanpa sampah dan semua aktivitas tertata. Kita perlu mencontoh hal baik dari Jepang.

Bus jemputan kami datang. Bus ini berkapasitas 27 orang itu terisi 12 orang termasuk supir. Tujuan pertama kami adalah University Tsukuba di Tsukuba. Ada sejumlah agenda pada hari pertama, Minggu, 14 Februari 2016. Dalam perjalanan menuju Tokyo, kami mampir ke situs sejarah yaitu Tokyo Imperial Palace. Di sana, kami menyempatkan berjalan-jalan sejenak dan berkenalan dengan aktivitas di Jepang.

Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan menuju Asakusa. Di sana, kami berkeliling di sekitar kawasan Sensoji Temple. Saya melihat dari jarak dekat Tokyo Skytree, bangunan tertinggi kedua di dunia saat ini.  Sekitar satu jam berkeliling, perut terasa keroncongan dan kami makan siang di restoran.

Selesai makan siang, kami lanjutkan perjalanan menuju destinasi utama. Butuh waktu dua jam untuk sampai di Universitas Tsukuba. Sesampainya di sana, kami langsung beristirahat di motel milik kampus tersebut. Aktivitas malam pertama di Jepang adalah menyempurnakan presentasi dan poster. Selesai itu, kami beristirahat dan mempersiapkan keperluan untuk esok pagi.

Seusai makan pagi di Tsukuba, aktivitas Senin, 15 Februari 2016 dimulai dengan mengunjungi Forestry and Forest Products Research Institute (FFPRI). Kami mengikuti kuliah singkat mengenai REDD Project and Research by Japanese Goverment. Dr. Matsumoto selaku Chief Staff of REDD Project menjelaskan kegiatan penelitian REDD+. Selain itu, kami juga mendapatkan pemaparan tentang Project and Research of Conserving Wild Life in Japan yang disampaikan oleh Dr. Fujima selaku Chief Staff of Forest Vegetation.

Selesai kuliah, kami melanjutkan kegiatan di Universitas Tsukuba dengan diawali makan siang. Di universitas tersebut, kami mengunjungi University Nursery and Laboratory of Silviculture and Nature Conservation untuk melanjutkan kuliah singkat yang disampaikan oleh Dr. Tsumura.

Beranjak dari persemaian itu, kami menuju salah satu kelas di kampus Universitas Tsukuba. Di sana, beberapa mahasiswa dan mahasiswi menyampaikan presentasi tentang tugas akhir musimnya, di antaranya mengenai rusa jepang, manfaat penjarangan pohon, pembakaran lahan sebelum penanaman, dan lainnya. Kami mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dengan mereka.

Selesai diskusi, kami melanjutkan kuliah di kelas lain dengan pembahasan tentang AIMS-TAG program dan beasiswa lain dari Pemerintah Jepang. Setelah mendengar penjelasan Dr. Nomura, terbersit cita-cita untuk melanjutkan pendidikan di Jepang. Pemerintah Jepang bisa memfasilitasi dengan baik dan cuma-cuma.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, malam mulai menyelimuti langit di Jepang. Kami makan malam bersama beberapa mahasiswa Universitas Tsukuba yang berasal dari Indonesia. Hati saya bertambah senang karena bisa berjumpa dengan senior Arga Rana (alumnus SMK Kehutanan Negeri Kadipaten) dan Guntur (alumni SMK Kehutanan Negeri Samarinda) yang mendapatkan beasiswa dari Universitas Tsukuba. Selain itu kami berkenalan dengan mahasiswa lain yang berasal dari Indonesia.

Makan malam penuh kehangatan. Sushi yang kami lahap menjadi saksi keakraban malam kedua kami di Jepang. Seusai bersantap dan bercerita, kami kembali ke motel dengan penuh keriangan.

Hari ketiga dimulai dengan pagi yang dingin dengan suhu mencapai -1 celcius. Kami lawan dingin dengan kobaran api semangat menuju Tama Science Forest Center. Kami menggigil, hidung pilek, tapi semangat tetap mendominasi.  Hari ini adalah istimewa karena saya akan menyaksikan secara langsung bunga Sakura, ikon negara matahari terbit.

Kami mendapatkan gambaran umum Tama Forest Science Garden dan Lecture tentang Environmental Education for Citizen, serta tentang bunga Sakura.  Senangnya berkeliling menyaksikan langsung bunga sakura bermekaran, tumbuhan hutan evergreen, dan nonevergreen

Setelah cukup puas, kami menuju Chichibu Noen Hotel untuk bermalam. Dari hotel tersebut, kami menyaksikan matahari tenggelam dan pemandangan yang sangat menakjubkan. Kami bisa melihat kota Chichibu dilingkari pegunungan yang berselimut salju. Subhanallah, sungguh pemandangan yang sangat indah. Kami tak berhenti bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sugoi! Kami akhiri petualangan di hari ketiga, Selasa, 16 Februari 2016 dengan makan malam dan persiapan terakhir untuk presentasi dan poster.

Rabu pagi dimulai dengan sarapan dan check-out. Sebelum ke Sakado, kami mengunjungi Chichibu Environmental Education Center. Di sana kami mendapatkan lecture tentang biomass tecnology dan karakteristik hutan Jepang. Saat berkeliling, salju turun. Ini pengalaman luar biasa menikmati dinginnya salju sembari mencatat ilmu.   

Tak mau lama membeku dalam kedinginan, kami masuk ke ruangan untuk makan siang dan dilanjutkan perjalanan menuju University Tsukuba Sakado Senior High School (UTSS). Kami sampai di UTSS saat pembelajaran masih berlangsung. Deki Sensei dan Nozomi Senpai yang pernah mengikuti exchange program 1 tahun di Indonesia menyambut kami. Lonceng tanda berakhirnya pelajaran berdentang, kami bertemu dengan siswa-siswi yang akan menjadi hostfamily dan mengikuti wellcome party.

Wellcome party berlangsung dengan sederhana. Kami saling berkenalan. Alhamdulillah, kami langsung bisa mengobrol dengan lancar. Siswa-siswi yang akan menjadi hostfamilyer tertarik dengan Bahasa Indonesia. Kami juga saling bertukar informasi tentang budaya.

Pembagian house familyer berlangsung lancar. Dalam program Sakura Exchange Program in Science, kami berkesempatan homestay. Artinya, kami akan memiliki keluarga baru dan menginap langsung di rumahnya. Para guru menginap di hotel di Kawagoe.

Semua hostfamily menganggap kami sebagai anaknya sendiri. Kami melakukan aktivitas yang sama dengan anak mereka. Semua hal baru yang belum dimengerti akan diajarkan dengan senang hati. Sebaliknya, kami pun berbagi kepada mereka tentang tradisi hidup di rumah kami

Tibalah hari yang kami tunggu. Kami akan mempersembahkan presentasi dan poster. Ada cerita unik menuju UTSS dari homestay masing-masing. Ada hanya 10 menit berjalan kaki, 40 menit menggunakan kereta, atau paket komplet karena harus berjalan, naik bus, dan kereta. Kami bertemu di Wakaba Station dengan mimik wajah bahagia diiringi dag-dig-dug.

Acara inti dimulai pukul 09.00 waktu Jepang. Siswa dan guru melihat poster yang kami pasang. Setiap pertanyaan yang diajukan mereka bisa kami jawab dengan baik. Sesi pertama dimulai dengan welcome sesion. Perkenalan kami yang kedua kalinya untuk semua hadirin yang datang. Setelah itu, dilanjutkan beberapa laporan kegiatan yang semuanya menggunakan Bahasa Jepang. Jam makan siang menjadi jeda acara. Hadirin dipersilahkan untuk beristirahat.

Kami keluar dari Gymnasium UTSS dan menuju ruangan yang sudah disiapkan. Menu makan siang beragam karena bento yang dibawakan berasal dari ibu yang berbeda. Beberapa siswa UTSS yang merupakan hostfamily bergabung. Suasana menjadi cair penuh canda tawa. Kami menjadi lebih rileks, grogi dan deg-degan lambat laun berkurang. Rasanya, kami seperti sudah kenal lama sehingga saling peduli.

Sesi presentasi tiba. Acara Presentations about International Activities by Student dimulai dari siswa UTSS. Mereka menyampaikan tentang robot, manfaat kulit pisang, dan lainnya. Satsuki Hamasaki (UTSS) menyampaikan kegiatan Super Global High School dan Nozomi Furui (UTSS) menyampaikan hasil belajarnya di Indonesia.

Tim Indonesia juga tidak mau kalah. Perwakilan pertama, Adit Rinaldi menyampaikan tentang Forestry Vocational School Of Indonesia. Saya, Kevin Widiar Golpantara menyampaikan tentang Sakura Science 2016 Activities. Sementara Mahyu Rifdatul Jannah menceritakan kegiatan Super Global High School 2015 di Jepang. Alhamdulilah, presentasi 30 menit itu berjalan tanpa hambatan.

Acara dilanjutkan dengan penampilan tari dari beberapa siswa UTSS. Kami sangat terhibur. Kami juga diperkenalkan huruf kanji di papan. Acara berlangsung hingga pukul 17.00 waktu Jepang dengan kata penutup dari Mr. Yoshikazu Tatemoto. Lega rasanya, Kamis, 18 Februari 2016 terlewatkan dengan suka cita. Kami kembali homestay bersama hostfamily. Ada yang langsung pulang ke rumahnya dan ada juga yang diajak berbelanja membelikan buah tangan untuk keluarga di Indonesia. Esoknya, kami harus beranjak dari kota Sakado.

Jumat pagi, kami berpisah dengan hostfamily. Rasanya ingin berlama-lama dengan mereka sudah sangat baik seperti keluarga sendiri. Sebelum melanjutkan perjalanan, terlebih dahulu diadakan rapat para guru. Siswa menunggu dengan berdiskusi singkat membahas tentang pentingnya menjaga hutan. Sebelum benar-benar meninggalkan Sakado, kami mendapatkan sertifikat yang langsung diberikan oleh kepala sekolah UTSS, yaitu Mr. Morihiro Kato. Sekolah ini telah menjadi saksi bisu dan memberikan pelajaran berharga selama di Sakado.

Kami lanjutkan perjalanan menuju hotel dekat bandara Narita sembari ke Museum of Emerging Science and Innovation (Miraikan Museum). Di museum ini, kami merasa seperti berkunjung ke Taman Pintar di Yogyakarta yang berisi berbagai simulasi dan hal interaktif. Kami beristirahat di Airport Rest House. Di hotel yang tak jauh dari bandara Narita, kami packing, bermalam, dan sarapan.

Sabtu pagi, kami optimis pasti akan kembali lagi ke sini Someday. Usai sarapan, kami check-out dan bersiap menuju bandara menggunakan shuttle bus. Setelah mengisi semua kelengkapan, tas kami masuk bagasi, dan saatnya berpisah dengan. Mr. Yoshikazu dan Mr. Ken yang sudah banyak membimbing kami selama di Jepang.

Kami langsung masuk, menuju sekitar satu jam, dan masuk pesawat. Sekali lagi, tidak ada yang mengatakan sayonara (selamat tinggal). Kami mengatakan Mata Aimasho Japan (Sampai Jumpa Jepang). Suatu ketika, kita pasti akan berjumpa lagi. Kami kembali ke Indonesia dengan semangat baru untuk lebih maju. Setibanya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, ada haru yang terbendung.  Tim Indonesia dalam Sakura Exchange Program in Science harus berpisah ke kota masing-masing. Rasanya baru kemarin kami berjumpa, berkenalan, dan bekerja sama di negeri orang, kini berpisah. Sekali lagi, Mata Aimasho yang kami ucapkan.

Kami tetap keluarga. Kami percaya akan sukses bersama-sama. Ada banyak syukur yang harus kami dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Rasa terima kasih yang terhingga kami sampaikan kepada Pemerintah Indonesia, BP2SDM, Pusdiklat Bogor, Pemerintah Jepang, Japan Science and Technology Agency, Tsukuba University, semua Intansi yang telah memberikan ilmu dan bimbingan, University Tsukuba Sakado Senior High School, Mr. Yoshikazu tatemoto, Mr. Deki, Mr. Ken, seluruh Hostfamily, dan sekolah kami tercinta, SMK Kehutanan Negeri di Indonesia serta semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu. Domo Arigato Gozaimas. Matane Aimasho pada tulisan saya selanjutnya!

Dengan Senang Hati Kembali Kasih,
Always be #positive and Salute!

Wassalamu’alaikum Warrahmatullah Wabarokatuh.



***

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In Dormistory Herewidgo Someday Widgostory

Being An Abnormal Human


Basmallah Penulis,

Allo?? I’m Kevin Widgo and welcome to my Someday, now I would like to share something. This is ‘bout my School, in Forestry Vocational High Scool. Almost 3 tahun gue udah hidup dan nimba ilmu disini. I just wanna flashback. Trying to turning kenangan sebelum gue really-really out from this school. About phase that already past before, tentang gue yang milih untuk jadi seperti sekarang and why? Start from kenapa gue sekolah disini ya? So #herewidgo and this is #dormistory

First point, Dulunya gue enggan untuk masuk sekolah ini dengan anggapan i wanna be normal human. Maksudnya? Ya normal human kaya yang mungkin you yang lagi baca ini, that is anak SMA or ever have experience. Thats why? I realize pengin dah hidup sebagaimana kebanyakan other people hidup, yang fasenya mulai kenal alphabeth and numbering di TK, grow up and have a lot  of friends di SD, mulai feel something to someone di SMP, have a girlfriend or a former darling di SMA  lanjut Kuliah then get a job, ketemu jodoh and then married, punya anak dan bahagia with my family till the end. I know it is Normal and you know it’s Life. And all we know It is Normal Life.

Emang gue udah jalanin fase yang gue pengin sampai dengan gue SMP, until the 5th semester my parrent was talking mau lanjut kemana nantinya. Then i just said “ya ke SMA aja lah.” Tapi yang namanya parents juga punya hak untuk choose and fixed masa depan anaknya, gue dikenalin sama ni sekolah. When Mid semester holidays my parrent have time untuk ngajak lihat kampusnya walau gak nyampe masuk ke dalam because its prohibited. Then, yang gue liat sepintas from the outside yaa... Not bad, Its a good campus, and more bigger than Senior High Scool i think. Dengan lapang dada gue iyain aja dulu maunya. Gue juga gak tau all about sekolah ini, my parent know about this school from their old friend yang anaknya juga sekolah disini waktu itu. I got a litlte bit information from my parent kalo itu Boarding school, semi-militer and seems like a High School (Sekolah Tinggi). For the begining preparation sometimes I  just doing sedikit olahraga ringan.

When 6th semester begin, setidaknya gue dah punya dua pilihan untuk lanjut ke fase selanjutnya. Short in time The Final semester of Junior High School was done, gue juga lulus UN dengan nilai yang kalau lu tanya? For me it’s never been enough, but ya i’m grateful. In the middle of preparation wisuda, I registered to enter the next phase, untuk masuk sekolah ini gue mulai from Administration test, i prepare then posted all rules and regulations ke alamat kampus. Lolos dan gue lanjut ke Semarang untuk ikut tes tulis. Lolos lagi, Lanjut ke tes fisik dan kesehatan di kampus, eh ada bonus interview singkat waktu itu. Kaya yang tadi gue bilang, i just add a little bit sport. Sedikit banget malah. Padahal ya after i thought about this selections, number of applicants at that time was thousands people and later, force will be 102 students

Semua tes untuk masuk sekolah ini gue jalani sungguh-sungguh cause i think setidaknya kalau nanti gue being normal human, i’m not too much dissapointed my parents because gue gak lolos. Untuk masuk SMA itu gue apply in reguler ways padahal sebelumnya gue punya pengalaman lomba Mata Pelajaran di SMA itu yang mana lu bisa dapetin golden ticket kalau menang, but that seems to be my destiny (Gue tau karena gue punya saudara yang masuk from this way). I missing a few points untuk lanjut ke tahap selanjutnya. Sekian lama menunggu dengan penuh tawakal gue dapet pengumumanya, Alhamdulillah nama gue ada di list calon siswa kedua sekolah. Its meaning gue FIX bisa pilih wants to be normal human atau abnormal human. At the first i bingung banget, so much, seriously. Then gue tanya ke sahabat-temen gue, they which is masuk SMA ya dukung gue untuk jadi sejenis among them dan yang satunya lagi juga bilang untuk being abnormal aja kaya dia. Oh my lord. Finnaly i discuss with my parents, but still my parents not forcing me. Pilihan ada di tangan gue, at the last gue tanya sama yang Maha Tahu, juga yang udah buatin best scenario untuk gue. Gue minta petunjuknya dan hasilnya all of you know what i choose. IT IS BEING AN ABNORMAL HUMAN.

Tiga Tahun. Ya itu cuma 3 tahun kok, hanya 36 bulan, only 144 (one hundreads and fourty four) weeks and just about 3456 (Three thousand, four hundreads and fifthy six) hours which is actually longer than the one-week orientations period (MOS), but all feels like REVERSE. But it doesn’t feel right? Gak! Im not say that. Everithing was flowing, up and down. Can you explain? Gimana yaa? I think its compicated. Really and Honestly. Everything feels almost complete, mungkin simpelnya kaya... Mm.. Yin & Yang lah. Inside a bad there is a point of good dan inside a good there is also a point of bad. Always ada positive and negative. And now after i feels all of the experience which is almost closed by buku kenangan. Gue simpulkan ditengah, being an abnormal human it is a good things (FOR ME). I be grateful. Tapi kalau ya dibilang bangga? yaaa....? I feels something yang emang gue realize will be different from my begining selection. Gue juga tau bahwa atmosphere disini, oksigen that i shiffting here itu beda banget from the outside. Ditambah lagi lingkungan dan sistem pendidikan yang such as different too. Here i know kind of characteristics people dan kadang juga gak sedikit kebaca sih apa yang dia mau from me. Ada yang emang ikhlas gue masuk dihidupnya, bahkan juga give a lot of manfaat together to other people. Juga ada yang judgement gue ini ya cuma MEH, parasite, penghalang from their scenario. Tapi ya positif think aja, lagian kalau hidup gak ada yang begituan ya gak ada bumbunya, Its FLAT. Tapi gue gak jamin ini worth it untuk yang lain ya.. No guarante! Sorry. Selain itu dengan gue ada disini setidaknya i feels so nice, betterthan kalau gue being normal human. But more..

I realize again something, yang mana gue gak tau, bahkan orang lain juga gak tau bawasanya the ways that they choose its betul atau salah. They on the right track atau wrong track. Toh emang ini kan fate yang ditulis oleh Allah. Emang udah plan-Nya. Allah kasih gue pemahaman lewat salah satu insan ciptaannya, nah insan ini bilang di salah satu videonya “Nobody knows what are they doing acctually, we all have no experience in life. Kita disini (dunia) sama-sama firstimer.” So because it, gak ada insan yang paling tau akan apa yang dia lakuin it’s a good. Karena sometime apa yang kita anggap baik itu belum tentu baik pula dimata Allah. Cuma ada satu yang bisa dijadiin pedoman kita dalam hidup, apalagi kalo bukan Agama. Misalnya gini aja, gue sendiri juga gak tau kan apa jadinya kalau gue dulu itu being normal human, all experience yang gue dapatkan disini will not occur. Selain itu achievement yang mungkin i should have kaya diplan awal gue never be happen. Because it i think from right now, just flow, i follow my plot storylife dengan apa yang gue miliki and always agama yang buat gue tetap stand up, I really grateful much. Intinya, yang gue tau “apa aja yang kita lakukan dan hasilkan di dunia ini, mau itu kita normal human atau abnormal human yang penting kita melakukan suatu kebaikan yang positif, which is useful and have mean to much people. Cause what? The best human is who are very useful for the other people. Apa pun jenisnya, sekecil apa pun kebaikan itu kita juga gak tau kan mana yang bakal bawa kita enter to Paradise. And also think before mau ngomong because sometimes mulut ini much more sharp from a sword, hati hati juga kalau behaviour because kita juga gak tau hal kecil apa yang bisa bawa kita enter to the hell. Nauzubillahimindzalik.. Allright.. Gitu aja ya..
*sorry ya kalo bahasa gue bilingual atau malah trilingual.. hehe

So #herewidout Always be #positive and Salute! Terima Kasih!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Every Day's

Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus. Always be #positive and Salute! ^^

Translate

Ads Day's